Sunday, July 25, 2010

Kisah benar,Juwita: Saya Dibaptis di Bawah Alam Sadar

Juwita:

Saya Dibaptis di Bawah Alam Sadar


Juwita Korban pemurtadan

MENYAKITKAN sekaligus memilukan hati, namun itulah ungkapan yang dilontarkan Juwita binti Karman, warga Desa Suak Geudeubang, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat yang menjadi korban pemurtadan dan pendangkalan akidah yang dilakukan misionaris di tempatnya berdomisili beberapa waktu lalu.

Saat ditanya  kemarin, dengan raut wajah lugu dan linangan air mata, Juwita menceritakan pengalaman buruknya itu. Menurutnya, awal mula ia mengenal agama non-Islam itu justru saat ia berkunjung ke rumah kakak sepupunya, Ernawista alias Nonong, untuk suatu keperluan. Aaat ia masuk ke kamar kakaknya itu, tanpa sengaja ia temukan sebuah kitab Injil di sudut kamar.

Merasa penasaran, Juwita yang mengaku kurang mendapatkan ajaran Islam membuka kitab tersebut dan menanyakan kepada sang kakak untuk apa kitab itu. Namun, sang kakak tidak menjawab rinci. Ia hanya menyarankan supaya Juwita bertanya kepada wanita berinisial N yang sebelumnya telah membaptis Ernawista.

Bukan cuma mendapat penjelasan lebih lanjut, perempuan berinisial N itu justru membuat Juwita tambah penasaran. Bahkan untuk meyakinkan dirinya akan ajaran kitab Injil itu, di tangan Juwita digambarkan sesuatu semirip palang salib.  N menjelaskan kepada Juwita bahwa garis panjang tersebut merupakan jalan atau jembatan menuju Shiratal Mustaqin (jalan/jembatan menuju surga). Sedangkan garis pendek di antara garis yang berada di bagian atasnya merupakan jalan menuju surga dan neraka. Garis ke kiri menuju neraka, garis ke kanan menuju surga. Jika memercayainya, maka akan selamat hidup di dunia dan di akhirat.

Penasaran
Merasa penasaran dengan cerita yang disampaikan N, Juwita pun mengaku sangat mendambakan cerita selanjutnya. Keingintahuannya makin memuncak ketika dijelaskan kata-kata yang mebuat dirinya makin penasaran.  Tahu bahwa Juwita makin tertarik, N pun menyarankannya untuk dimandikan lebih dulu, supaya keterangan yang akan dijelaskan nanti bisa dicerap seluruhnya.

Selang beberapa hari kemudian, N justru mendatanginya dan menanyakan apakah sudah siap untuk dibaptis. Antara yakin dan tidak, ia hanya menjawab sekenanya saja: ya sudah.  Prosesi pembaptisan pun dipersiapkan. Kakak sepupunya, Ernawista, diminta N membantu persiapan pembaptisan di lokasi yang telah ditetapkan, yakni di kawasan pantai Lhok Bubon, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, sekitar dua bulan lalu.

Saat diajak dan akan dibaptis oleh N, Juwita mengaku tak bisa menolak. Ia merasa antara sadar dan tidak, mengikuti saja ajakan tersebut, meski sebelumnya batinnya berontak dan tak ingin dibaptis. Namun, ia tak kuasa menampik ajakan itu, mengingat N  hanya menjelaskan apabila dirinya ingin tahu lebih banyak tentang ajaran agama dan isi kitab Injil, maka ia harus dimandikan (dibaptis) lebih dulu.

Saat pembaptisan itu, Juwita mengaku justru dimandikan oleh kakak sepupunya Ernawista, karena diminta tolong oleh N. Meski sang kakak mengaku tak bisa melakukannya, namun N terus-menerus memintanya. Sementara itu, mereka membacakan doa-soa saat prosesi berlangsung pada hari Jumat sekitar pukul 15.00 WIB. Lama pembaptisan 1,5 jam. “Selama itu pula saya merasa berada di bawah alam sadar dan tak banyak ingat apa saja yang dilakukan para perempuan di sekitar saya saat itu,” ungkap Juwita.

Malah, Juwita mengaku saat prosesi pembaptisan usai, kondisi tubuhnya serasa tidak nyaman. Ia mulai sering marah-marah kepada orang tuanya tanpa sebab. Bahkan saat berada di rumah, ia membayangkan bakal takut bertemu dengan N, wanita teman kakaknya itu. Namun, saat benar-benar bertemu, ia malah tak kuasa menolak setiap ajakan ataupun kata-kata bujukan N yang disampaikan padanya. Juwita juga mengaku bahwa dirinya ikut memandikan (membaptis) Cut Susinilawati di kawasan pantai Ujong Kareung pada 7 Juli 2010 karena diminta oleh N.

Cut yang hanya tamat SMP itu, menurut Juwita, tertarik dengan cerita N yang menyatakan akan mencarikan jalan kasih, apalagi saat itu perempuan yang berusia 18 tahun tersebut baru saja putus cinta dari sang kekasih. Namun Juwita mengakui, apa yang ia lakukan selama ini bersama kakak sepupunya, Ernawista alias Nonong dan Cut Susinilawati, semuanya berada di alam bawah sadar mereka. Dengan berlinang air mata, ia mengaku sangat menyesali perbuatannya itu dan menyatakan akan kembali memeluk Islam, agama orang tuanya, seperti sediakala.

No comments:

Post a Comment